OLEH
: ASHHABUL YAMIN
Dalam kitab Hadist Shoheh Bukhari nomor hadist 1477 : “Innalloha kariha salatsata, qiila waqola,
idho’atul mali, kasrotussu’al.
Hadist tersebut menjelaskan kepada kita bahwa ada 3
(tiga) perkara yang Alloh sangat benci jika itu dilakukan oleh hambaNya.
Yang pertama, qiila
waqola, yakni ungkapan kabar burung, atau kabar berita yang belum jelas
kebenarannya. Seperti “katanya si fulan telah begini, katanya si fulan telah
begitu”, katanya, katanya inilah yang dimaksudkan belum jelas kebenarannya. Oleh
karena itu jika ada orang yang menyampaikan kepada kita dengan ungkapan katanya-katanya,
atau dengan kalimat lainnya yang belum jelas kebenarannya, maka wajib untuk
kita tinggalkan dan tidak boleh kita ikuti.
Dalam Al Qur’an surah Al Isro’ ayat 36 Alloh SWT
berfirman :
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggung jawabnya”.
Ayat ini memberikan peringatan dan teguran kepada kita
seolah-olah menyampaikan, telinga, mata, dan akal kamu dikemenakan sehingga
kamu tidak bertanya dulu tentang kebenaran berita yang kamu dengar itu? Maka
marilah kita berhati-hati, agar tidak terjebak dalam perilaku ini. Cek sumber
berita yang datang, cek kebenarannya, cek manfaat dan mudharatnya jika berita
tersebut disebar luaskan. Bahkan meskipun sebuah kabar berita sudah jelas
kebenarannya, jika tidak memiliki manfaat, maka dilarang untuk kita
menyebarkannya.
Perilaku Qilawaqola
bukan perilaku yang langka ditengah masyarakat kita. Hanya orang-orang yang
bodoh yang bisa terjebak dalam perilaku ini. Kemuliaan akal tidak
dimanfaatkannya. Lalu bagaimana dengan mata dan telinga yang telah Alloh anugerahkan
kepadanya? Bahkan jika ada pertanyaan untuk apa mata kita, maka berlomba-lomba
kita menjawab untuk melihat. Lalu untuk apa telinga kita? berlomba-lomba pula
kita menjawab untuk mendengar. Namun jawaban tersebut salah. Karna mata bukan
untuk melihat, tapi untuk melihat yang baik-baik. Untuk melihat yang diridhai
oleh Alloh. Jika mata kita gunakan untuk melihat, lalu apa bedanya mata kita
dengan mata binatang? Telinga bukan untuk mendengar, tapi untuk mendengar yang
baik-baik. Jika telinga kita hanya untuk mendengar, lalu apa bedanya telinga
kita dengan telinga binatang. Mulut pun bukan untuk berbicara, tapi untuk berbicara
yang baik-baik, untuk berbicara yang Alloh ridha atasnya. Karena semua itu,
mata kita, telinga kita, mulut kita, akan dihisab oleh Alloh SWT, namun mata
dan telinga binatang tidak akan dihisab oleh Alloh SWT. Maka marilah kita
berdayakan segala kebaikan yang telah Alloh anugerahkan kepada kita hanya untuk
kebaikan, hanya untuk hal-hal yang Alloh ridha atasnya.
Yang kedua, idho’atul
mali, yakni menyia-nyiakan harta yang telah dititipkan oleh Alloh
kepadanya. Idho’atul mali sendiri
memiliki 2 (dua) pengertian yakni menghilangkan esensi dari harta secara
kuantitas dan kualitasnya. Secara kuantitas, idho’atul mali berarti boros, yakni menyia-nyiakan harta bahkan
mendekati pada kemubaziran. Misalnya saja, membuang-buang roti atau nasi yang
masih layak dimakan. Subhanalloh, etnis Rohingya hari ini sedang berebut
makanan, 1 roti diperebutkan 10 sampai 16 orang. Seorang ibu disuriah harus
berkeliling menelusuri tempat sampah mencarikan susu untuk bayinya yang sudah
kurus kering, dan untuk mendapatkan seteguk air minum, saudara kita dipalestina
harus berjuang membersihkan air bersih mereka dari gas beracun. Lantas apa yang
kita lakukan disini terhadap harta dan rezeki yang telah dianugerahkan dan dititipkan
kepada kita? coba cek dan lihatlah kelakuan kita ketika menghadiri undangan dari
tetangga kita atau masyarakat lainnya. Tidak sedikit kita yang membuang-buang
nasi, bahkan mencucui tangan diatas tumpukan nasi yang semestinya kita makan,
dan tidak sedikit juga kita minum air mineral gelas hanya setengahnya saja, lalu
kita tinggakan, orang lain tentu tidak akan mau meminum dan memakan bekas kita,
alhasil semua itu akan dibuang percuma.
Bukankah telah sekian banyak saudara kita, orang tua
kita, dan kerabat kita yang lainnya harus pergi ke pulau seberang, ke Sumbawa,
ke Bali, ke Kalimantan, ke Sualwesi, bahkan keluar negeri, apa tujuan mereka?
Tujuan utama mereka adalah fantasiru fil ard,
yakni mencari sebagian dari karunia Alloh, berupa rezeki yang mereka
butuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dikampung halaman, lantas tidak
sadarkan kita betapa mereka harus berjuang luar biasa, bahkan tidak seidikit
harus mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk mendapatkan sesuap nasi tersebut.
Maka ketika rezeki tersebut didapatkan, marilah kita manfaatkan dengan
sebaik-baiknya. Jangan sekali-kali kita sia-siakan.
Subhanalloh, kita berlindung kepada Alloh dari
kemubaziran, karena kemubaziran adalah saudara syeitan. “Innal mubazziri kaana ikhwanassyayatin”.
Secara kualitas, idho’atul
mali berarti menyia-nyiakan harta yang telah dititipkan oleh Alloh kepada
kita. menyia-nyiakan disini maksudnya tidak menggunakan atau memaksimalkan
harta tersebut untuk beribadah kepada Alloh. Mari kita renungkan, ketika Alloh
titipkan rezeki berlebih kepada kita, hakikatnya Alloh telah membuka peluang
bagi kita untuk bertaqorrub kepadaNya. Karena mungkin kita tidak terlalu kuat
untuk berpuasa sunnah senin-kamis, atau tilawah kita masih sangat kurang,
bangun shalat malam masih sangat sulit, lantas mengapa harta yang telah
dititipkan kepada kita tersebut tidak kita maksimalkan dengan menggunakannya
dijalan Alloh, seperti dengan membeli sebuah Al Qur’an lalu kita wakafkan dimasjid,
dan ketika dibaca oleh orang 1 (satu) ayat mendapat 10 (sepuluh) kebaikan, maka
insyaallah kitapun akan mendapatkan kebaikan yang sama seperti orang yang
membacanya. Begitulah semestinya kelebihan harta yang telah dititipkan kepada kita
dapat kita maksimalkan dengan bilhal yang dapat mendekatkan kita kepada Alloh.
Bukan malah sebaliknya, menjauhkan kita dari Alloh, bahkan menjadikan diri
sombong kepada Alloh. Na’dzubillah tsumma na’dzubillah.
Kalau hanya sombong, yang dulu sudah ada. Namanya Karun,
dan hartanya sangat jauh lebih banyak dari pada kita. Dikisahkan didalam Al Qur’an
Surah Al Qosos ayat 76 yang artinya : “Sesungguhnya
Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan
kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya
sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika
kaumnya berkata kepadanya: “janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.
Maka ketika ada orang kaya dizaman sekarang yang sombong
dan membangga-banggakan diri kesana kemari, sungguh ia telah ketinggalan zaman,
dan sungguh ia telah keterlaluan karena hartanya tak sebanyak harta Karun, dan
Karun pun dimusnahkan oleh Alloh sesuai dengan yang dikisahkan dalam Al Qur’an
surah Al Qosos ayat 81 : “Maka kami
benamkanlah Karun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu
golonganpun yang yang akan menolongnya terhadap azab Alloh. Dan tiadalah ia
termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
Dalam kitab Al Hikayat wal muhimmbat, Imam Hasan Al
Bashri, pernah mengisahkan ketika ia tertidur dan bermimpi, datang kemudian
suara yang bertanya kepada beliau, ya abdulloh, hai hamba Alloh, amalan anda
yang manakah menurut anda yang terbaik, kemudian ia menyebutkan amalan-amalan
yang menurutnya terbaik, namun suara tersebut menjawab, “amalan tersebut tidak
diterima oleh Alloh”. Suara tersebut kemudian menyampaikan amalan anda yang
diterima adalah ketika anda bersedekah pada seekor lalat. Jadi dikisahkan pada
suatu hari Imam Hasan Al Bashri pernah menulis, kemudian penanya dihinggapi
lalat, ketika penanya dihinggapi lalat, beliau mendiamkan penanya sejenak
memberikan kesempatan kepada lalat tersebut untuk mengambil rezekinya. Laa
haula wala quwwata illa billah. Kita tidak pernah tahu amalan kita yang mana
yang diterima oleh Alloh. Boleh jadi amalan yang menurut kita terbaik dan
special sekalipun, namun ternyata tidak diterima oleh Alloh, dan begitupun
sebaliknya, amalan yang menurut kita remeh temeh, namun ternyata amalan tersebutlah
yang diterima dan mendapat penghormatan dari Alloh SWT.
Maka marilah ketika kita dititipkan harta dan rezeki,
marilah kita maksimalkan untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Kita harus malu,
ada orang yang tidak dititipkan sepeda, namun mampu berjalan 500 meter- bahkan
satu kilometer untuk shalat berjamaah dimasjid. Laa haula wala quwwata illa
billah, lantas kita tetangga dimasjid, masih saja ada alasan untuk tidak shalat
berjamaah dimasjid. Jauh, kita dititipkan sepeda motor, masih perhitungan
dengan bensin, hujanpun melanda, kitapun dititipkan payung. Sepeda motor dan
payung hakikatnya miliki Alloh yang dititipkan kepada kita. Maka mari kita
maksimalkan selagi harta tersebut masih dititipkan kepada kita. Sebelum harta
tersebut Alloh ambil dan Alloh titipkan kepada hambanya yang lain.
Yang ketiga, kasrotl
su’al, yakni banyak bertanya pada sesuatu yang sudah jelas. Ini terjadi
pada kaum nabi Musa yang terlalu banyak bertanya ketika datang perintah
menyembelih sapi. Padahal perintahnya
sangat jelas dan sangat sederhana, yakni menyembelih sapi. Tapi mereka kemudian
membuatnya menjadi rumit dengan banyak bertanya tentang warnanya, warna kuning
yang bagaimana, dst dst. Sungguh, jika ada perintah atau sesuatu hal yang telah
jelas, maka tinggalkan keragu-raguan, dan bersegeralah untuk menunaikannya.
Wallohua'lam
Comments
Post a Comment