OLEH
: ASHHABUL YAMIN
Sahabt
fillah rahimakumulloh,
Dalam
Al Qur’an
Alloh
SWT berfirman,
“kuntum khoiru ummah uhkrijat linnas,
ta’muruna bil ma’ruf wayanhauna anil munkar”
(kamu semua adalah ummat terbaik, hendaknya
kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mugkar ).
Berlandaskan
kepada firman Alloh tersebut, maka tugas dakwah tidak hanya menjadi tugas para
tuan guru, para kiayai, dan para ustadz. Tugas dakwah adalah tugas yang melekat
dalam diri setiap orang beriman.
Yang paling dibenci oleh Alloh adalah ketika seseorang
dinasehati oleh saudaranya, ia lalu mengatakan : “urus saja dirimu sendiri”. Tidak
bisa kita pungkiri bahwa kalimat-kalimat pengingkaran bahkan perilaku-perilaku
pengingkaran bukan menjadi hal yang tabu dalam masyarakat kita. Sudah banyak
kalimat semisal “ita buang diriq”
atau “sai begaweq ia mauq” begitu
enteng keluar dari mulut mereka. Kalimat-kalimat ini biasanya keluar dari mulut
seseorang yang tidak suka ketika dinasehati oleh saudaranya.
Kalimat ini tampaknya sangat enteng keluar dari lidah
seseorang yang didalam hatinya terjangkiti penyakit takabbur. Penyakit ini
biasanya membuat orang menjadi keras kepala dan sukar menerima nasehat dari
saudaranya. Ia merasa diri sudah cukup, ia merasa diri sudah aman dari beratnya
siksa kubur, ia merasa aman dari jilatan api neraka, bahkan ia merasa nyaman
dengan dunia dengan kehidupan dunia yang melalaikan, ketahuilah sahabat fillah
telah berulang-ulang kali Alloh jelaskan dan tegaskan di dalam Al Qur’an bahwa
“telah dijadikan terasa indah olehmu
kehidupan dunia yang melalaikan.” Dan Ketahuilah pula wahai sahabat fillah,
sifat takabbur inilah yang kemudian menyebabkan iblis terlaknat. “wa’idz qulna lil mala’ikatisjudu li’adama
fasajadu illa iblis, aba wastakbaro wakanaminal kafiriin” dan ingatlah ketika
kami berkata kepada para malaikat seujudlah kepada Adam, maka mereke bersujud
kecuali iblis, sungguh mereka telah takkabur dan mereka termasuk orang-orang
yang kafir.
Sahabat
fillah rahimakumulloh,
Kita tentu sudah maklum bahwa muslim yang satu dengan
muslim lainnya adalah bersaudara. Maka salah satu dari pembuktian itu adalah ketika
seorang muslim peduli dengan saudaranya, termasuk peduli dengan kesalahan yang
dilakukan oleh saudaranya. Sehingga haruslah kita pahami bahwa ketika ada
seseorang yang menasehati kita,maka boleh jadi orang tersebut peduli dan
menyanyangi kita. Abu Bakar RA pernah berkata : “orang yang paling aku sukai adakah orang yang melihat kesalahanku.”
Orang bijak mengatakan, “Jangan nasehati orang yang bodoh, karena dia akan membencimu,
nasehatilah orang yang berakal karena dia akan menyayangimu.”
Namun yang harus kita pahami adalah bagaimana cara
menasehati yang sesuai dengan tuntunan agama kita. Caranya adalah :
1)
Perbaiki niat ketika ingin menasehati orang
lain. Nasehatilah saudara kita dengan niat karna Alloh, semata-mata karena
kecintaan kita kepada sesame saudara kita, karena kepedulian kita, karena kita
tidak ingin saudara kita dalam kesalahan terus menerus. Kita ingin bersama-sama
dalam jalan kebenaran dengan saudara kita sesame muslim. Memanglah kebenaran
hanyalah milik Alloh SWT, sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiar.
2)
Nasehatilah dengan tutur kata yang santun,
lemah lembut, dan jelas tidak kasar. Hal ini berlaku untuk berbagi usia,
terhadap orang dewasa maupun anak-anak kita harus tetap lemah lembut. Lemah
lembut dan santun bukan berarti tidak tegas. Yang sering keliru oleh kita
adalah tidak bisa membedakan antara tegas dan keras. Kita sering mengidentikkan
tegas dengan keras, padahal kedua hal ini tentulah sangat jauh berbeda.
3)
Jika tujuan kita menasehati seseorang, maka
nasehatilah dalam keadaan sepi dan berdua dengannya. Jangan menasehati didepan
orang banyak, karena itu akan membuatnya merasa tersinggung.
Sahabat fillah rahimakumulloh.
Al imanu yazidu wayankushu, iman itu naik turun dalam
hati sesorang. Rasa jenuh bisa saja datang kapan saja. Adalah manusiawi jika
jenuh terhadap pekerjaan yang terus-menerus kita ulang-ulang. Shalat dari dulu
ya tetap 5 (lima) waktu, begitu terus-menerus kita ulang, shalat sunnah rawatib
begitu pula terus menerus kita mengulang. Bahkan ada yang mengatakan shalat
rawatib itu kan sunnah, jadi boleh dikerjakan boleh juga tidak. Pernyataan
seperti ini harus kita jawab dengan apa manfaat dan fungsi dari shalat sunnah
tersebut, dimana shalat sunnah rawatib berfungsi utama sebagai penambal bagi
shalat wajib yang sudah kita laksanakan. Karna boleh jadi dan bukan tidak
mungkin dalam pelaksanaan shalat wajib kita memikirkan sesuatu diluar shalat.
Kadang-kadang kita memikirkan pekerjaan yang belum selesai, kadang-kadang kita
memikirkan keluarga yang sedang sakit, kadang-kadang kita memikirkan tentang
utang yang masih menumpuk, dan berbagai problema kehidupan lainnya yang
bersemayam dalam pikiran dan hati kita yang sewaktu-waktu akan muncul bahkan
ketika shalat sekalipun. Ini adalah wajar wahai saduaraku, dan disinilah fungsi
shalat rawatib itu begitu kuat untuk menambal segala kekurangan yang terjadi
pada shalat wajib. Maka begitu pentinglah posisi shalat sunnah rawatib,
sehingga hendaknya kita luangkan untuk sejenak melaksanakannya sebelum maupun
sedudah shalat sesuai dengan tuntunan bab shalat dalam kitab-kitab fiqh yang
sudah diramu oleh para ulama’ kita.
Wallohua'lam
Comments
Post a Comment