![]() |
| sumber foto : islami.com |
Pertama
kali tiba di Madinah, yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah membangun
masjid. Bahkan sebelum sampai di Madinah, didalam perjalanan hijrahnya,
tepatnya di Quba, Nabi Muhammad SAW membangun masjid yang pertama dibangunnya,
yakni masjid Quba.
Masjid
yang didirikan oleh beliau dijadikan sebagai pemersatu ummat. Shaf-shaf shlat
yang panjang dan teratur rapi akan membangun kebersamaan, solidaritas, keadilan
dan kekompakan.
Masjid
yang dibangun oleh Rasululloh SAW bukan untuk bermegah-megahan—tapi memang
beliau niatkan sebagai sarana pemersatu ummat. Percuma saja jika kita membangun
masjid yang megah, namun tidak mendatanginya untuk shalat berjamaah. Percuma
juga kita merayakan Maulid yang mewah dan menghabiskan anggaran besar, namun
kita tidak mengikuti sunnah Rasululloh SAW, yaitu shlat berjamaah dimasjid.
Lantas untuk apa semua itu kita lakukan? Apa iya semua itu kita lakukan hanya
untuk bermegahan, hanya untuk berbangga-bangga agar mendapat pujian dari
sesama.
Mari
perbaiki dan luruskan niat. Perkara yang kecil dimata manusia namun dengan niat
yang lurus dan benar akan menjadi besar dan mulia dimata Alloh, begitupula
sebaliknya, perkara yang besar dimata manusia namun dengan niat yang yang salah
akan menjadi kecil dimata Alloh, bahkan noncent.
Mari
kita bersyukur hidup didaerah yang masjidnya sangat mudah kita jumpai disetiap
desa bahkan disetiap dusun—sehingga jika kita berkendaraan dan melewati masjid
sementara adzan dikumandangkan padanya—berhentilah sejenak, dirikanlah shalat
padanya—sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya—syukur-syukur
jika kita sampai tujuan dengan selamat.
Shalat
berjamaah itu berat, terutama bagi mereka yang belum terbiasa. Terlebih jika
merekan memiliki sifat kemunafikan dalam dairinya. Hal ini sudah dijelaskan
oleh Alloh SWT dalam firmanNya, Al Qur’an surah an-Nisa ayat 42 yang artinya : “Dan
apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri denga malas. Mereka
bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut
nama Allah kecuali sedikti sekali.” (an-Nisa: 42)
Sering
kita saksikan saat adzan berkumandang—rapat yang dilaksanakan dikantor-kantor,
sekolah, perusahaan—tidak dihentikan dan terus berjalan—bahkan mendekati waktu
shalat berikutnya. Padahal waktu yang dibutuhkan hanya sekita 15-20 menit saja
untuk menghentikannya dan melaksanakan shalat berjamaah.
Shalat berjamaah
adalah wujud nyata dari team work yang
solid dan kuat. Even organizer (EO)
yang terbentuk dalam waktu yang sangat singkat—bahkan tersingkat didunia. Ada
petugas azan (muazzin) yang memanggil dengan satu komando—disemua masjid
diseluruh dunia komandonya sama, bahasanya sama, dan lafdaznyapun juga sama.
Para jamaah
berbodong-bondong mendatangi panggilan tersebut. Mulailah mereka bersuci
(berwudhu), kemudian pemanasan (shalat sunnah), dan tibalah saatnya Iqamat—lalu
semua bergegas berdiri mengisi shaf-shaf yang fasilitasnya sama. Tidak ada yang
mendapat fasilitas khusus apapun jabatannya. Mereka meluruskan dan merapatkan
shaf dibawah komando sang Imam. Kaki kiri bersentuhan dengan kaki kanan jamaah
disebelahnya. Kaki kanan bersentuhan dengan kaki kiri jamaah disebelahnya. Sangat
teguh, kuat, kompak, dan solid barisan itu. Saat sang Imam salah, jamaahpun
boleh menegur dengan tatacara yang sudah ditentukan dengan elegan—namun tetap
kemudian mengikuti Imam.
Inilah
barisan yang terkuat dengan disiplin dan dedikasi tinggi. Jika ini bisa
dilakukan oleh para pimpinan organisasi, kantor, sekolah, dan perusahaan, maka
insyaallah team work yang kuat akan
terbentuk. Secara pribadi saya sangat merindukan pemimpin yang seperti ini.
Kagum rasanya hati ini mendengar sebuah organisasi atau perusahaannya yang
menjadikan shalat berjamaah sebagai syarat untuk merekrut karyawannya.
Saat
berbicang-bincang dengan salah seorang tenaga di Yayasan Server Indonesia
terkait bagaimana rekrutmen tenaganya—ternyata mereka disyaratkan dengan shalat
berjamaah. Lebih lanjut ia menjelaskan—“jika adzan sudah berkumandang apapun
yang kami kerjakan dikantor—kami tinggalkan dan segera memenuhi panggilan adzan
tersebut”. Subhanalloh, sebuah organisasi yang patut dicontoh oleh
organisasi-organisasi lainnya.
Pribadi-pribadi
yang kuat dan tangguh memang dibangun didalam masjid. Mereka siap melakukan
apapun untuk membela agama Allah. Pilihan mereka hanya 2 (dua), mati syahid
atau beroleh kemenangan dan kejayaan Islam. Kalau karakter semacam ini sudah
tumbuh dan kuat dalam pribadi masing-masing jamaah, maka team work yang kuatpun akan terbentuk. Semoga bermanfaat
Wallohu’ta'ala a'lam...
By : Ashhabul Yamin
By : Ashhabul Yamin

Comments
Post a Comment